Pondok; How long can you go?
(Memahami Peran Politik Pondok Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah )

Oleh ; Minhadzul Abidin

Pesantren PERSIS Abu Hurairah yang lebih akrab disebut Pondok, memang tidak ada istimewanya kalau dibandingkan dengan sejumlah pesantren modern di Indonesia yang sudah memiliki kurikulum yang canggih, akses informasi yang luas dan alumni yang bertebaran menjadi tokoh nasional, tetapi ada hal yang menarik terutama bagi masyarakat kecamatan sapeken, Pondok memiliki nilai historis panjang dengan masyarakat kecamatan sapeken, dan mempunyai hubungan ikatan mutualisme yang relevan dan konstruktif terhadap perkembangan dinamika sosial kultural masyarakat se-kecamatan sapeken. Pondok meruapakan basis perjuangan masyarakat, benteng terakhir aqidah dan tuntunan syari’at, Pondok hadir menjadi sebuah fenomena yang menjelma menjadi dialektika kehidupan merekonstruksi pola keagamaan dan pengetahuan primitf masyarakat.

Didirikan pada tahun 1974 dengan prakarsa seorang seorang Ustad muda yang revolusioner, yang kharismatik berwawasan dan istiqomah dalam perjuangan dakwahnya,merupakan titisan kebijaksanaan dan keluwesan tokoh ulama yang dicintai masyarakat. Dialah Al-Ustad H. Ad-dailami Abu Hurairah, Ustad Ad-dailami beliau biasa dipanggil, kecerdasan dan wawasan luas serta tegas itulah pesan yang mengurai makna ketika melihat sosok seorang -Ustad Ad-Dailami Abu Hurairah, keramahan wujud pengorbananan yang tulus dalam mencerdaskan dan menyalakan lilin bagi kegelapan peradaban masyarakat kecamatan sapeken.

PONDOK DAN ORDE LAMA

Hubungan Pondok dalam hal ini Ustad Ad-dailami Abu Hurairah dengan Politik, maksudnya keterlibatan beliau dalam politik praktis sejak awal memang sudah sangat mesra, bahkan sejak duduk dibangku pesantren PERSIS bangil , seperti diakui oleh Ustad pada khutbah-khutbahnya, bahwa selama dipesantren PERSIS bangil beliau banyak berinteraksi dan diskusi dengan tokoh-tokoh MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) salah satu partai islam terbesar yang sangat modern dan demokratis pada zaman Orde lama, yang dimpimpin oleh salah tokoh PERSIS yang melegenda dengan Mosi Integral nya beliau adalah alm. Moh Natsir. Diskusi-Dsikusi panjangnya dengan tokoh masyumi yang jadi ustadnya di bangil, meliputi tentang dasar Negara pada waktu awal kemerdekaan seperti kasus piagam Jakarta, teks proklamasi yang diubah, dan alasan dis integrasi bangsa yang dibuat-buat oleh Hatta , inti dari diskusi tersebut adalah meminjam istilah beliau “pengkebirian” umat islam oleh Soekarno dan antek-antek nasionalis lainnya,

Pada periode ini secara tidak langsung ketertarikan dan diskusi-diskusi politik Ustad Ad-Dailami bisa kita simpulkan sebuah keberanian menceburkan dirinya dalam politik praktis dimana teman-temannya seangkatan di bangil masih awam terhadap dunia politik. dengan satu tekad dan tujuan pembelaan terhadap syari’at Islam, Hal inilah yang kemudian hari banyak dalam mengisnpirasinya dalam membangun tatanan masyarakat kecamatan sapeken selanjutnya.

PONDOK DAN ORDE BARU

Orde baru yang terkenal adalah rezim yang otoriter represif dan sering main hakim sendiri, ternyata tidak mempengaruhi istiqomah dan keberpihakan terhadap partai berasaskan islam, Pondok memilih PPP (Partai Persatuan Pembangunan) salah satu partai islam hasil fusi (penggabungan) partai-partai islam oleh orde baru dan menyerukan kepada masyarakat kecamatan sapeken untuk memilih PPP, akibatnya Ustad Ad-Dailamai jadi sasaran tindakan kejam dan teror pejabat-pejabat Orde Baru, tetapi Ustad Ad-dailami dengan lantangnya menolak dan bersikukuh dengan prinsipnya, “ Jangan panggil saya Ad-dailami jika harus tunduk dan menyerah terhadap tindakan orde baru, lebih baik saya mati daripada meninggalkan syari’at ini” begitu Ustad Ad-dailami menceritakan dalam khutbahnya.

Setelah diberlakukannya asas tunggal Pancasila, dan PPP mengganti lambangnya dan asasnya apa hendak dikata, sayonara PPP, kemudian beliau memilih Golkar (golongan Karya), karena menurut beliau sama saja dan memilih GOLKAR sebuah pilihan yang tepat karena lebih besar manfaatnya terutama bagi masyarakat kecamata sapeken dalam hal pembangunan. sampai pada jatuhnya rezim Soeharto 1998

PONDOK DI ERA REFORMASI

Setelah jatuhnya Soeharto dan era keterbukaan demokrasi, dan munculnya partai-partai berasaskan islam, momentum ini dimanfaatkan oleh pondok untuk bersama-sama mendukung partai berasaskan islam, tetapi umat islam terpecah, ada yang mendukung partai berasaskan islam, ada yang berasaskan nasionalis tetapi mendapat dukungan dari ormas islam, pada tahun 1999 begitu banyak partai mulai melamar pondok, bahkan seorang amien Rais ketua DPP PAN (Partai amanat Nasional) pada saat itu rela datang ke kecamatan sapeken, belum lagi PBB (Partai Bulan Bintang) yan memanfaatkan jaringan PERSIS untuk mengintervensi pondok ternyata tidak berhasil, pilihan politik Pondok akhirnya jatuh ketangan PK (Partai Keadilan) sampai PEMILU tahun 2004 diaman PK yang berganti nama menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) karena electoral threshold berhasil meraih suara signifikan di kecamatan sapeken dan mendapatkan satu kursi wakil rakyat di DPRD Kabupaten Sumenep. Sehingga Pondok menjadi primadona yang selalu diperebutkan elite-elite politik sampai sekarang .

PONDOK DAN PERTARUHAN KEPENTINGAN SANTRI

Keberpihakan Pondok dalam politik membuat Pondok memiliki jaringan yang luas, terutama di Jakarta barapa kali Ustad Ad-dailami diundang kesebuah lembaga tinggi Negara dan diterima langsung oleh Ketuanya yang merupakan mantan Presiden partai yang didukung oleh pondok di tahun 2004, selain itu Ustad Ad-Dailami sering berkunjung ke lembaga pemerintahan seperti Departemen atau Kementrian Negara yang menterinya berasal dari partai tersebut, dan hubungan itu makin mesra setiap tour ( perjalanan dakwah santri kelas 3 aliyah) berkunjung ke kantor partai yang berada dikawasan mampang Jakarta selatan itu.
Bantuan pendidikan dan beberapa akses informasi dan pengetahun menjadi keuntungan pondok dalam kaitan tersebut. tetapi harus pula kita ingat, santri santri tersebut takutnya akan terjebak dalam polarisasi dan menjadi komoditas politik, dimana dalam usia tersebut seyogyanya ditanamkan pengetauan bagaimana memahami keberagaman dan persaudaran bukan afliliasi yang berbasis kepentingan ala partai.

Hemat saya tour atau perjalanan dakwah santri tersebut seharusnya diprioritaskan untuk pengembangan kualitas santri dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan studi banding kurikulum dan tenaga pengajar kesejumlah lembaga pendidikan yang terkenal dan berhasil di Jakarta, bukan memprioritaskan kunjungan ke kantor partai,
belum lagi para ustad pondok sering berbeda pendapat apakah berkunjung ke kantor partai di daerah mampang jakarta selatan (PKS) atau ke kantor partai yang berada di jalan raya pasar minggu jakarta selatan (PBB), termasuk ke lembaga pemerintahan yang tidak ada hubungannya dengan yang mereka pelajari, dan buktinya pengalaman saya waktu ikut acara tour tersebut para santri terkesan diam dan bingung dengan presentasi salah satu Kepala staf Departemen dan bahkan yang lebih aktif para ustad yang seharusnya berada sebagai posisi pendamping. Akan tetapi, ini menjadi sebuah dilema seperti diungkapkan oleh Ustad Ad-Dailami, tour ini diharapkan untuk pengembangan masyarakat sapeken, dan memberikan gambaran realita kepada pemerintah pusat tentang kondisi masyarakat kecamatan sapeken yang selama ini dizhalimi oleh Pemerintah Daerah Sumenep dari segala bidang. jadi bagaimana jawaban untuk biaya yang dikeluarkan yang sangat besar oleh santri untuk ikut tour tersebut, yang hasilnya tidak pernah mereka nikmati.


PONDOK(NYA) ELITE POLITIK

Secara prosedural tidak ada yang bisa menyalahkan atau mengekang keberpihakan pondok dalam pentas politik di era demokrasi sekarang ini, bukan hanya pondok tetapi ormas dan pesantren di Indonesia banyak yang terjebak dalam hal yang sama meskipun dalam UU PEMILU menegaskan bahwa lembaga pendidikan dan tempat ibadah tidak boleh dijadikan arena politik, keberpihakan pondok atau ustad Ad-Dailami dalam politik pada awalnya adalah karena perjuangan dan pembelaan terhadap syari’at islam, kita bisa melihat afiliasi politik pondok dari waktu ke waktu adalah partai yang berasaskan islam, tetapi sekarang begitu banyaknya partai bersaskan islam sehingga membingungkan posisi keterlibatan pondok dalam politik, dan memang patut diwaspadai karena politik adalah wilayah serba interest, partai islam sekalipun.

Menjelang pemilu 2009 Pondok mengalami cobaan terberat dalam kiprah politiknya diamana suara pondok yang dulunya selalu solid, bergerak signifikan dan terstruktur serta sistematis mulai bergeser. Hal ini ditandai dengan kekalahan calon kepala desa sapeken yang didukung oleh pondok meskipun pondok menyatakan tidak pernah mendukung siapa-siapa, tetapi secara eksplisit pondok adalah rekomendasi calon tersebut, banyak orang yang menganggap ini adalah sejarah baru perpolitikan di kecamatan sapeken.

Pergeseran tersebut mulai berimbas terhadap pilihan politik pondok, PBB (Partai bulan bintang), yang dulunya mati atau sengaja dimatikan mulai bangkit dari tidur panjangnya, bersaing ketat dengan (PKS) Partai Keadilan Sejahtera memperebutkan suara pondok dan kharismatik Ustad Ad-Dailami, kharismatik beliau yang telah dibangunnya bertahun dengan istiqomah dan totalitas perjuangan dakwahnya mulai dijual murah, sehingga terkesan membingungkan masyarakat kecamatan sapeken. dalam pidato politiknya pada Silaturrahmi PBB cabang Sapeken pada bulan oktober kemarin, Ustad Ad-Dailami menyatakan bahwa saya akan mendukung dua partai itu (PKS dan PBB) karena sama-sama berasaskan islam. Memang pidato tersebut berhasil menjelaskan posisi politik Pondok, tetapi apa yang terjadi di massa akar rumput?, masyarakat terpecah dan menjurus kepada konflik horizontal, dan pondok mulai kehilangan eksistensinya sebagai penyeimbang atau rumah terakhir dalam persengkteaan,karena elite-elite pondok sendiri adalah otak yang melatar belakangi perpecahan dan kebingungan masyarakat demi sekedar kepentingan sesaat.

Belum lagi di internal Pondok sendiri semakin semrawut, guru-guru tidak harmonis setiap hari menurut sumber terpercaya rapat dewan guru tidak lagi berpikir dan menghasilkan program meningkatkan potensi dan pengetahuan santri melainkan sibuk bericara pemenangan partai masing-masing,saling curiga saling tuding dan akhirnya santrilah yang jadi korbannya dan memang bukan rahasia umum lagi jika kita melihat bebarapa keganjilan terjadi di pondok dan menjadi buah bibir masyarakat kecamatan sapeken sekarang , seperti kekerasan dalam pendidikan, administrasi pesantren yan tidak tertata, laporan keuangan yang tidak pernah transparant, kurikulum yang yang amburadul, serta pemusatan kekuasaan (monarki) yang tidak profesional ditangan satu orang, dan yang lebih berbahaya lagi degradasi moral santri yang setiap tahun melahirkan catatan buruk.

RESOLUSI TAHUN 2009

ironis, Pondok yang telah banyak mencetak kader-kader intelektual dan merupakan bagian sejarah perjuangan masyarakat kecamatan Sapeken ternyata sedang sakit akibat terlalu tingginya syahwat politik dan kekuasaan di elite-elite pondok sendiri, ukhuwah yang selama ini mereka keluarkan hanya penyulam simpul bibir belaka, kebutuhan untuk pengabdian (need to achievement) yang semula menjadi niat keterlibatan pondok dalam pentas politik mulai terkikis dengan kebutuhan untuk berkuasa (need to power) yang cenderung menghalalkan segala cara untuk tujuan politiknya.

sekali lagi menurut hemat saya bahwa untuk merubah sapeken menjadi lebih baik, harus dimulai dari basis dan kekuatan masyarakat sapeken salah satunya pondok, kalau pondok memainkan peranan pentingnya dan kembali berpihak kepada kepentingan rakyat akan tercipta tatanan masyarakat yang ideal, sejahtera aman dan tentram dibawah naungan Ridho Allah SWT yang merupakan jargon yang didengungkan pondok selama ini. stigma pondok yang selama ini menjadi milik elite (bangsawan) harus mulai ditinggalkan karena
pondok (seperti yang diungkapkan oleh ustad Ad-dailami) adalah hasil keringat nelayan-nelayan miskin, para pelanggar hukum dan penyalahgunaan kekuasaan yang berlindung dibawah kebesaran pondok harus segera diusir, saatnyalah pondok harus menjadi lokomotif perubahan pembawa amanah dan pro rakyat.

Kegagalan pondok adalah kehancuran Sapeken karena kegagalan dalam mencetak generasi islam yang berkualitas akan berdampak langsung terhadap tatanan masyarakat dan munculnya generasi cacat disegala bidang atau sampah-sampah yang tidak bisa terurai oleh ruang dan waktu, tahun 2009 adalah momentum untuk bangkit, tahun dimana Pondok bisa memainkan peranan penting dalam PEMILU 2009, Pondok diharapkan jeli melihat calon-calon anggota legsilatif atau calon Presiden yang akan didukung. Amanah, jujur dan selalu berpihak kepada rakyat merupakan kriteria pemimpin yang harus dipilih
bukan wakil rakyat muka-muka lama yang telah gagal mengemban amanah di tahun 2004 dan merupakan politisi-politisi busuk serta bukan pula elite-elite pondok yang haus kekuasaan dan merusak citra pondok, Tahun 2004 kemarin adalah pengalaman pahit bagi fase politk pondok yang dampaknya terasa masih sekarang, perpecahan di internal pondok karena permasalahan ditahun 2004 yang gagal memilih pemimpin yang amanah, sekarang pondok diharapkan memilki kekuatan politik sendiri sehingga tidak mudah ditarik ulur oleh elite-elite tersebut hanya karena mendapatkan bantuan dana. Tahun ini adalah pertaruhan terakhir bagi pondok, harapan seluruh masyarakat kecamatan sapeken (sami'na wa atho'ana)yang berada di ujung tanduk, Bangkit atau terpuruk. kita tunggu saja.

3 komentar:

  1. saya kira solusi yang paling bijak adalah,tokoh sapeken harus kembali memilih satu partai,sehingga pergulatan politik ini tidak akan berdampak pada masyarakat kecil,masyarakat juga sudah tau partai mana yg dari dulu banyak berperan ke pondok,sangat disayangkan ust addailami juga tidak tegas bahkan terkesan plin plan dalam hal ini,dulu dia suruh semua masyarakat sapeken untuk memilih PKS,sekarang kenapa ke PBB lagi,harus diingat caleg PBB sekarang adalah org yang dikeluarkan oleh PKS dan bukan org kepulauan,sehingga kenapa mau memilih dia,sudah pasti semua tau bahwa kenapa dia keluarkan karena pastinya dia telah berkhianat kepada partai dengan melakukan hal2 yang tidak dapat menjadi suri tauladan,saya pribadi sangat menyesali ketidaktegasan ust addailami dalam hal ini,coba bandingkan dengan caleg dari PKS,saya kira juga semua tau bahwa beliau adalah santri pondok,mengabdi kepada pondok,meninggalkan anak istri,dan perlu anda tau bahwa beliau mau jadi caleg karena itu adalah "paksaan" dari ustadz addailami sendiri,keluarganya sendiripun,seperti yg saya dengar dari sumber terdekat,awalnya tidak menyetujui hal ini,tapi karena di "paksa" dan di "yakinkan" oleh ustadz addailami,akhirnya mereka mau,terus kenapa sekarang mereka lepas tangan,apa mereka gak melihat hasil jerih payah ustadz2 dan masyarakat sapeken dalam membangun pondok.
    saya harap himas sebagai organisasi para mahasiswa sapeken,yang intelektual dan terpelajar bisa memahami hal ini sebagai ancaman buat persatuan org sapeken itu sendiri...
    sehingga himas pun akan dapat menjadi mediator sebelum konflik berkepanjangan.


    demikian dan terima kasih

    BalasHapus
  2. Daha takkele talaukan aidadine saloh, karne sehe-sehe ma Pondok adak perubahan menyongsong ellau malasso. Due parta PKS dan PBB sebenarne endah bettene iru wattu kami ma Pesantren ta[pi gainginai. 22ne matadda .

    BalasHapus
  3. Assalamu Alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatu...
    Apa boleh minta profile Al-Ustad H. Ad-dailami Abu Hurairah? (orang tua beliau dan sejarah hidupnya),terimakasih banyak sebelumnya,Wassalam.

    BalasHapus

RUANG KEBEBASAN BEREKSPRESI..

KATAKAN TIDAK UNTUK KEKERASAN DALAM AGAMA DAN JUSTIFIKASI PEMBENARAN AGAMA