KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN
Golput ala Sujiwo Tedjo

Oleh : Minhadzul Abidin
Sujiwo Tedjo tokoh nyentrik yang memiliki nama lengkap Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962). Dia juga seorang dalang dan kalau bisara sangat ceplos-ceplos tanpa perhitungan apa adanya dalam bahasa jawanya disebut tanpa aling-aling, selalu mendeskripsikan sesuatu dalam konteks pewayangan jawa. Sujiwo Tedjo mulai terkenal sejak membintangi film KAFIR bersama Artis salah satu trah Azhari yakni Ayu Azhari. Ada hal yang mengganjal dalam pikiran saya ketika mengambil preference kepada sosok yang tidak jelas dan terlalu imajinatif dan melampaui batas dialektika rasional yang bersifat umum dan sangat kontroversial ini bahkan banyak menyebut nya sebagai orang senewen atau gila, tetapi ada yang menarik dari sosok yang satu ini ketika dalam suatu acara talkshow Pemilu disebuah stasiun televisi swasta setelah bertajuk Pemilu Indonesia sehari setelah Pemilu 2009 digelar yang membahas tentang prsentase golput di Pemilu 2009 yang mencapai 40%.

“ Saya akan memilih, jika ada Calon legislatif atau Calon Presiden nantinya, yang bersedia untuk parang melawan barat dalam hal intervensi mereka dalam bidang ekonomi, politik dll” begitu penuturan dari Sujiwo tedjo dengan Ke’tengil’annya, “ dan saya akan bersedia menjadi tim sukses yang tidak dibayar jika ada Caleg/Capres yang menandatangani bahwa Dia akan menasionalisaikan perusahaan asing di Indonesia yang menguasai hajat hidup orang banyak, dan karena tidak ada, terpaksa saya Golput” begitu kira-kira Sujiwo Tedjo bertutur.
Memang dalam penyampaian dalam forum diskusi tersebut, Sujiwo Tedjo terkesan tidak serius dan tidak tersistematis serta tidak mempunyai kerangka berpikir yang konstruktif, tetapi ini sangat menarik ditengah bangsa kita yang telah merdeka hampir 64 tahun, tetapi tetap saja dijajah oleh bangsa asing yang telah menjajah kita hampir 4 abad lebih dan kini menjajah dalam bentuk baru.

Bung Karno telah berkali-kali mengingatkan kita jangan pernah tunduk dengan kolonialisme yang terbungkus dengan kaplitalisme, kita harus melawan dengan segala daya upaya dan bangsa kita harus berdaulat, tetapi apa yang terjadi dari presiden soeharto samapai sekarang sekarang semuanya tunduk kepada kapitalis dengan IMF dan World Bank nya, Kolonial menjelma menjadi penjajah dengan mengutak-atik Kedaulatan pemerintah Indonesia, di buatnyalah kita ketergantungan, Lihat saja kebijakan pemerintah kita yang selalu berpihak kepada pemilik modal dan terlalu menyederhanakan kepentingan rakyat kecil dengan memberikan bantuan yang periodik tidak substansi dan permanen, sehingga kita melihat akhir-akhir ini banyaknya kriminal atau pembunuhan hanya karena masalah kelaparan, belum lagi permsalahan yang lain dana stimulus Fiskal Rp 73,3 triliun hanya untuk membantu pemilik modal dan untuk barang-barang impor tidak pernah menyentuh kebutuhan rakyat kecil. Dan menurut beberapa analisis bahwa pemimpin di Republik ini yang akan berkuasa sudah diketahui oleh para Kolonial tersebut sebelum Pemilu berlangsung, dan mereka seperti putra mahkota yang sudah dipersiapkan untuk mengamankan kepentingan para kolonial di negeri ini.


Mungkin menurut HS Dilon ada benarnya seorang pengamat yang terkenal dengan kopiah sorbannya dan selalu menggunakan kata excellence (ekselensi) untuk menyapa orang lain, kita harus melihat kembali konsep Tri Sakti yaitu tigal hal yang menjadi kekuatan kita dalam berbangsa dan bernegara, pertama Mandiri dalam bidang ekonomi, kedua berdaulat dalam bidang politik dan ketiga berkepribadian dalam berbudaya, selama tiga hal tersebut kita masih tergantung dalam kekuasaan asing, kita belum bisa disebut sebagai Negara berdaulat.


Pemilu 2009 untuk memilih caleon legislatif telah selesai, rakyat menatikan janji-janji dari para pemimpin yang telah mereka pilih, adakah harapan utnuk bangkit di negeri yang terkenal dengan kolam susu ini, dimana tongkat dan kayu bisa menjadi tanaman dan air laut bak anugerah yang tidak akan habisnya. Rakyat sudah terlalu lama menunggu dan mungkin akan apatis dan putus asa terhadap negerinya sendiri apapun yang akan dihasilkan di Pemilu 2009 siapapun yang akan terpilih selama penjajahan gaya baru tersebut belum bisa diberantas, rakyat akan selalu jadi korban.


Beberapa bulan lagi PILPRES, elite-elite sudah membahas rencana koalisi dengan alas an bukan hanya masalah power sharing tetapi penyatuan frame work, adakah calon Presiden nantinya yang memilki semangat kebangsaan dan menjadi harapan untuk bisa mengangkat derajat bangsa kita diatas tempat yang terhormat, tidak menjadi budak asing, memang pernyatan ini sanagat ideal dan normative tetapi pada hakekatnya Pancasila dan UUd 1945 selalu menuntun kepada para Pemimpin bangsa ini agar rakyatlah diatas segala-galanya. Kalau tidak GOLPUT adalah solusinya untuk Negara yang berdaulat untuk Indonesia Jaya. selamat ya buat para Golput Mania
'

1 komentar:

RUANG KEBEBASAN BEREKSPRESI..

KATAKAN TIDAK UNTUK KEKERASAN DALAM AGAMA DAN JUSTIFIKASI PEMBENARAN AGAMA