Untuk Perempuan Kepulauan

Quo Vadis Perempuan Kepulauan Sapeken
dari Hartini Sampai Iing Hj. Meing

oleh : Minhadzul Abidin

kalian memang butuh laki-laki, tetapi jangan hidup dibawah
penindasan dan kekuasaan laki-laki
(Kutipan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia-Pramoedya Ananta Toer-)

PENDAHULUAN

Ketika membaca buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, ada hal yang menjadi gugatan dalam pikiran saya yang harus segera tuangkan dan mencoba mengelaborasi terhadap kondisi Perempuan di Kepulauan dari dulu sampai sekarang. Secara umum kondisi Perempuan Kepulauan adalah sub narasi Perempuan di Indonesia. Dimana kondisi Perempuan di Indonesia masih di dominasi budaya patriaki dan hegemoni patriarki tersebut bersekutu dengan agama yang ditafsirkan secara tekstual, tetapi hal itu sudah mulai diimbangi dengan munculnya gerakan Perempuan yang menyuarakan persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi gender, tetapi semua masih kontra produktif penuh perdebatan dan dialektika.

Apa yang ingin dituangkan oleh Pram dalam bukunya?, dalam satu bagian buku tersebut Pram ingin agar perawan remaja sekarang harus menikmati hidup penuh kebebasan dan memanfaatkan sebaik-baiknya, karena kondisi sekarang berbeda dengan zaman penjajahan jepang, dalam buku yang diambil dari kisah nyata dan penuturan saksi hidup tersebut banyak mengisahkan aksi kebrutalan jepang ketika mengambil anak-anak gadis pribumi untuk dijadikan budak seks, dengan alasan untuk disekolahkan di jepang, tetapi gadis-gadis tersebut dijadikan garda terdepan dalam melayani nafsu bejat tentara-tentara jepang yang perang melawan sekutu, banyak juga yang mati dimedan perang dan disiksa serta dibuang dilaut. Gadis-gadis trsebut banyak diambil dari anak keraton dan priyayi yang bersedia anaknya dibawa oleh jepang dengan alasan promosi jabatan, begitu mereka dijemput di rumah kabarnya tidak akan pernah diiketahui sampai sekarang ingin mengingatkan ketika hidup di zaman sekarang manfaatkanlah alam kemerdekaan ini dengan belajar dan berkiprah dalam berbagai hal.

Menurut Pram perawan remaja di zaman penjajahan jepang, mereka ingin belajar dan berdandan elok serti kalian sekarang, tetapi tidak punya kesempatan dan mereka terus dihimpit ketakutan dan penindasan serta ancaman bahkan banyak diantara mereka harus mati terbunuh dan mengalami cacat seumur hidup. Dan untuk menghindari jepang ada yang melumuri wajah mereka dengan kotoran ayam dan berdandan seperti orang gila.
Di era keterbukan dan demokrasi sekarang peran Perempuan dirasakan penting, Perempuan bisa berkiprah seseuai dengan skill dan tingkat pendidikannya.mereka juga terampil dalam berbagai bidang keahlian,di bidang politik peran prempuan harus mencapai kuota 30% di parlemen dikuatkan dalam UU pemilu tentang affirmative action. Jadi, jelas tidak ada media atau space khusus untuk membatasi ruang gerak Perempuan mungkin hanya UU pronografilah yang sedikit membatasi ruang gerak dan kreatifitas Perempuan, karena menurut bebrapa aktivis Perempuan, mengapa UU pornografi harus ditolak karena Perempuan dijadikan obyek dan sangat diskriminasi terhadap Perempuan karena Perempuan dianggap sebagai icon kerusakan moral bangsa.

PERGOLAKAN SRIKANDI KEPULAUAN
Sejarah Perempuan Kepulauan merupakan potret Perempuan secara umum di Indonesia, hak-hak untuk mendapatkan kehidupan yang setara dengan laki-laki masih terbatas, dibatasi oleh kodrat Perempuan yang harus menjadi istri yang patuh terhadap suami dan ibu terhadap anak-anak dan didukung oleh ajaran agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Kepulauan, tetapi pola diskrimasi tersebut tidak masuk dalam ruang lingkup kehidupan ekonomi, karena sejauh pengamatan penulis akses ekonomi Kepulauan banyak dikuasai oleh Perempuan sebut saja Hj Meing, Hj Ture, Ma surebe, mereka mencoba meretas budaya patriaki dengan penguasaan sendi-sendi ekonomi, dalam pergaulan masyarakat nama mereka terkenal dan menjadi fenomena lebih dari suaminya, peranan ketiga Perempuan Kepulauan tersebut diatas dirasakan penting karena secara tidak sadar merekalah yang mengatur arus jual beli dan peredaran barang dan uang di pada musim barat (tambaru) atau tepatnya musim penceklik bagi masyarakat Kepulauan.

Dibidang pendidikan pada awalnya Perempuan Kepulauan dipaksa putus sekolah karena harus menikah atau terpaksa tidak melanjutkan setelah sekolah dasar karena harus sekolah keluar daerah, sampai berdirinya Pesantren dan pembangunan SMP dan SMA, setelah itu habis gelap terbitlah terang begitu judul buku Kartini yang menginspirasi seluruh wanita indonesia, dan menginspirasi sosok Perempuan yang hijrah ke jakarta untuk melanjutkan kuliah dengan sebuah cita-cita dan impian untuk mencerdaskan masyarakat dan menjadi insprasi buat Perempuan Kepulauan lainnya, Namanya Hartini atau akrab dipanggil Bu Tini, Dialah yang membuka jalan dan cahaya dari kegelapan, hampir setelah itu banyak Perempuan Kepulauan yang mulai mengerti tentang pendidikan, sampai tahun 2002-2009 menurut data Departemen Penelitian dan Pendidikan PP HIMAS sekitar 300 Perempuan Kepulauan yang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, di berbagai bidang seperti Prorfesi (Dokter, Perawat, Sekretaris, Guru, Teknik, Polwan) dan Sosial (Ekonomi, Hukum, Kominikasi, Politik) serta agama dan budaya (Dakwah, Syari’ah, Ushuluddin Bahasa Arab dan Inggris).

Setiap perubahan ada hal yang mempengaruhinya baik internal maupun eksternal, internal ketika Perempuan Kepulauan mulai menyadari hak-hak hidupnya untuk mendapatkan kehidupan yang layak seperti pendidikan dan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahliannya masing masing, tetapi ada juga dari eksternal terutama dari lingkungan (environment) yang mendukung dan partisipasi publik terhadap pendidikan sudah meningkat, tetapi pada hakekatnya setiap perubahan yang terjadi pasti memunculkan dua kutub yang menyelimutinya antara kutub positif dan kutub negatif yang selalu tarik menarik.

Hal inilah yang mungkin terjadi dalam dinamika Perempuan Kepulauan, setelah melalui fase tersulit Perempuan Kepulauan pun bangkit dengan satu tujuan dan keyakinan untuk kehidupan yang lebih baik dalam perjalanannya seringkali Perempuan Kepulauan sulit menemukan identitasnya sehingga pengaruh dari luar atau faktor eksternal sangat mempengaruhi kwalitas Perempuan Kepulauan, mungkin kita tidak bisa menafikan modernisme dan kebebasan informasi, sehinggga banyak kita lihat diferensiasi antara fase Hartini dengan teman-teman seperjuanganya dengan fase Prempuan Kepualauan saat ini atau saya menyebutnya Fase Iing Hj Meing, mengapa saya menyebut Iing begitu panggilan akrabnya kerana sama halnya dengan Hartini keduanya sama sama begitu fenomena sampai sekarang dan menjadi icon perubahan generasinya masing-masing. Iing Hj Meing Perempuan ideal menurut sebagain orang, diisamping memilki Wajah yang cantik dan struktur oriental serta kulit putih dipadu tubuh ideal tinggi semampai, mungkin mirip zhang ziyi (artis China tercantik 2008) atau Michelle Yeoh tapi bukan Miyabi, selain itu Iing mempunyai nama besar karena anak seorang pedagang sukses yang kaya raya, jadilah Iing kiblat trensetter Perempuan Kepulauan saat ini dan sumber referensi bagaimana cara memikat kaum adam.

FASE HARTINI

Pada fase-fase tersebut gerakan Perempuan Kepulauan memiliki semangat dan idealisme yang berbeda, misalnya pada fase Hartini, mereka masuk dalam ranah mencerdaskan masyarakat dan ikut andil dalam proses perubahan di Kepulauan, karena dalam Fase ini mereka adalah angkatan Mahasiswi yang terlibat aksi heroik dalam reformasi 1998, terutama Hartini dan kawan kawan yang pada saat itu kuliah di Jakarta, sehingga aksi heroik masih membekas ketika mereka pulang ke kampung halaman dan bersatu dengan masyarakat membentuk GEMBOSI (Gerakan Masyarakat Bersatu Tolak Korupsi). selain itu kepedulian mereka pada konsep pendidikan, konsep pendidikan anak usia dini, yang sebelumnya masih langka di Kepulauan, dengan tangan dingin dan kerja keras serta perjuangan yang masif dan terstruktur, sekarang kita melihat pendidikan tingkat TK menjamur dan tersebar merata di seluruh desa di Kepulauan. Perjuangan Hartini dan teman-temannya tidak sampai disitu, dalam Pemilu 2009 kemarin Hartini, Elli Wahyuni, Asni fatira(Ilong guru Asmuni) mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI dan DPRD Kabupaten di Dapil Masyarakat Sapeken Memilih Calon Wakil Rakyatnya, meskipun dari partai berbeda, tetapi dengan satu tujuan dan keyakinan untuk perubahan masyarakat Kepulauan. Tetapi ada yang menarik ketika membicarakan Fase Hartini yaitu ketika berbicara masalah asmara, banyak diantara mereka sampai berumur 30 tahun ketas baru menikah, tetapi ada juga yang belum menikah, yang menjadi pertanyaan apakah tingkat idealisme dan aktivitas mereka yang tinggi melupakan persoalan pribadi yang menyangkut dengan hubungan asmara, karena pada hakekatnya kondisi Perempuan dalam hal ini rawan karena pertaruhan dua identitas menikah atau menjadi Perawan tua selamanya.

FASE IING HJ MEING

Mungkin pada Fase ini Peran Perempuan adalah sebuah keniscayaan, terbukanya kran akses pendidikan dan kebebasan menjadikan Perempuan pada fase ini mulai mengisi pos-pos penting di masyarakat, seperti Kantor Kecamatan, Kantor Kelurahan, Puskesmas, Bank, Sekolah dll. Tetapi pada fase ini proses pembentukan Perempuan Kepulauan yang cerdas,kreatif dan memiliki kearifan lokal masih merupakan Pekerjaan Rumah, karena idealisme Perempuan Fase Hartini sulit ditransformasikan dan dicerna karena kepungan budaya Leiberalisme yang mengusung hedonisme dan apatis, sehingga pada fase ini Perempuan Kepulauan tidak memliki identitas dan semangat pengabdian untuk masyarakat Kepulauan pun terasa hilang. Mungkin ada sebagian Perempuan pada fase ini yang memilki idealisme dan semangat perjuangan tetapi mereka minoritas sehingga tenggelam diantara hiruk pikuk dunia gemerlap yang menawarkan kebahagian absurd.

Selain itu pada fase ini sangat bertolak belakang dengan Fase Hartini, Fase ini begitu agresif dan reaksioner ketika bersentuhan dengan hal yang namanya asmara, sangat sensitif meminjam istilah andrea hirata terlalu obsesif kompulsif dalam memahami lawan jenisnya, jadilah Perempuan Kepulauan menjadi konsumtif, baik dari pakaian sampai peralatan make up untuk memutihkan wajah dan berdandan se elok-eloknya dengan satu tuntutan ingin meyenangkan lawan jenisnya, apa jadinya kalau Perempuan Kepulauan yang sejak kecil sudah memakai jilbab dan selalu diajarkan akhlak islam serta mendekap Mushaf Al-Qur’an dengan penuh kesyahduan ternyata sering menginap dikamar kost laki-laki yang bukan muhrimnya tanpa ada perasan bersalah seperti yang kita lihat di sinetron-sinetron.

Inilah yang merupakan permasalahan fundamental yang dialami Perempuan Kepulauan fase Iing H Meing, karena Perempuan Kepulauan yang sejak kecilnya selalu bersentuhan dengan norma yang mengikat, kebebasan dalam ruang lingkup pergaulan sangat dibatasi dan diawasi ketat oleh masyarakat, setelah kuliah di kota besar dan menghirup udara kebebasan yang tidak proporsional jadilah Perempuan Kepulauan fase ini seperti burung yang dilepas dari sangkar sehingga melupakan esensi dari kebebasan itu sendiri.

PENUTUP

Setiap fase memiliki sejarahnya masing-masing, sejarahlah yang membentuk pelaku dalam fase-fase tersebut, siapapun tidak bisa memaksakan sejarahnya untuk diikuti oleh orang lain atau generasi sesudahnya, tetapi yang menjadi catatan adalah Perempuan Kepulauan dalam sejarahnya telah mampu bangkit dari keterpurukan dan ikut dalam dinamisasi gerakan Perempuan di seluruh Dunia untuk mendapatkan perlakuan yang sama sebagai Warga Dunia tanpa ada diskriminasi gender, tinggal sekarang bagaimana usaha-usaha untuk menjaga semangat perjuangan di hati kaum Perempuan sekarang, yang memiliki tantangan berat karena derasnya kepungan globalisasi dan modernisme. Sejarah akan selalu mencetak Pemimpin yang memiliki keberanian dan berpegang teguh pada kebenaran karena pada hakekatnya kita belajar tentang kebenaran abadi dari masa lalu, bangkitlah Perempuan Kepulauan untuk Indonesia lebih baik.
'

1 komentar:

  1. kesalahan awal dari sebuah tulisan adalah terletak pada pada kesalahan identifikasi dan asumsi dari obyek yang dibaca dan ditelaah.meyakini bahwa ada sebauh prilaku diskriminasi terhadap perempuan kepulauan -seperti gambaran umum yg terjadi di Indonesia- oleh para kaum lelaki meerupakan sebuah kesimpulan yng ahistoris, apalagi kalau sampai hal itu dikaitkan dengan persoalan teologis; bahwa akar diskriminasi terdapat pada keyakinan agama masyarakat kepulauan........
    tapi terlepas dri itu, ada banyak sumbangan yg positif dari tulisan ini...........

    BalasHapus

RUANG KEBEBASAN BEREKSPRESI..

KATAKAN TIDAK UNTUK KEKERASAN DALAM AGAMA DAN JUSTIFIKASI PEMBENARAN AGAMA